Situs seputar berita, foto, video budaya dan wisata di Sulawesi Barat

Saoraja Ujung Polewali, Tinggalan Rumah Adat di dalam Kota Polewali

Saoraja Ujung Polewali Sulewatang I Caponte I Bannya Karaengta Jaranna Manggabarani, 

Tidak banyak Saoraja yang bisa ditemukan saat ini terutama di Sulawesi Barat, Di Polewali, ini mungkin satu-satunya, adapun saoraja yang paling dekat dari lokasi ini adalah Saoraja Batu Lappa, yang terletak di kab. Pinrang, lokasinya tepat didepan masjid besar Bungi. 

Saoraja Ujung Polewali I Banynya Manggabarani
Saoraja Ujung Polewali Sulewatang yang terletak di kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Foto : www.tommuanemandar.com)

Saoraja dalam penelusuran artikel adalah rumah adat bagi para keluarga bangsawan. Dan nama marga Manggabarani banyak lahir dan tumbuh di Polewali. Mulai dari Bupati, hingga Perwira bintang tiga di kepolisian, keturunan marga Manggabarani banyak mewarnai skala lokal hingga nasional. Dan Saoraja ini terkait dengan nenek moyang mereka yang ternyata berasal dari kerajaan Wajo.

Dari penelusuran artikel, pemilik saoraja adalah sesuai namanya adalah seorang putra Ishak Manggabarani, Karaeng Mangeppe, Arung Matoa Wajo, yaitu I Bannya, Karaeng Jaranna

Seperti dikutip dari tulisan Andi Oddang yang berjudul "Latar belakang Manggabarani Karaeng Mangeppe, Arung Matoa Wajo ke-43, 1900-1916"

" Pada abad 19, Kerajaan Binuang dan Tonyamang di daerah Mandar adalah suatu kawasan yang takluk dibawah perlindungan Sidenreng dan Gubernemen Hindia Belanda. Suatu kawasan taklukan yang dihibahkan oleh Arung Palakka Petta MalampE’E Gemme’na kepada Addatuang Sidenreng dalam abad sebelumnya 5). Maka Addatuang Sidenreng beserta kerabatnya senantiasa memiliki aset berupa tanah pantai/perkebunan dan persawahan yang luas pada kedua wilayah di Tanah Mandar tersebut, tidak terkecuali : Ishak Manggabarani KaraEng MangEppE.

Pada suatu Lontara Binuang berbahasa Bugis tertanggal 22 Jumadilakhir 1315 H (1894)6), diuraikan suatu Berita Acara penebusan gadai oleh We Sima’tana dalam kedudukannya selaku Arung Tellu Latte’ Sidenreng kepada Ishak Manggabarani KaraEng MangEppE. Bahwa kas Kerajaan Sidenreng pada suatu ketika memerlukan bantuan keuangan, digadaikanlah Tana Libukeng TengngaE di Tonyamang. Hingga kemudian ditebus kembali kepada KaraEng MangEppE dengan sejumlah harta : 1.575 keping suku-suku emas, 121 keping ringgit emas dan rupiah emas 32 keping. Sedemikian kayanya, sehingga mampu memberi bantuan pinjaman lunak kepada salahsatu kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan.

Kiprahnya di Tanah Mandar senantiasa berkelanjutan, bahkan ketika telah dinobatkan menjadi Arung Matoa Wajo. Pada Lontara Wari 7) Arung Binuang menguraikan tata pranata dalam menjamu kunjungan Raja-Raja Besar, diantaranya disebutkan : Petta Arung MatoaE Manggabarani.

————————————————–

5). Inhoud Lontara’ No. 130 (hal. 119-120), Pemda Tk. I Sulawesi Selatan – 1980.

6). Inhoud Lontara’ No. 130 (hal. 117-118), Pemda Tk. I Sulawesi Selatan – 1980.

7). Inhoud Lontara’ No. 130 (hal. 120-124), Pemda Tk. I Sulawesi Selatan – 1980.

Pada sumber lain, bahwa ketika KaraEng MangEppE membuka pemukiman PolEwali (Polman), beliau mengatur kedua puteranya selaku penguasa kawasan tersebut, sebagaimana disebutkan : 1. I ParEnrEngi Dg. PabEso KaraEngta TinggimaE Datu Suppa Toa Arung Malolo Sidenreng Rappang, diarahkan sebagai penguasa kawasan pegunungan (darat), dan 2. I Bannya’ Dg. Mattawang KaraEngta Jarana’, diarahkan menjadi penguasa pesisir dengan banyak mencetak empang dan perkotaan pantai.

Hubungannya dengan penguasa-penguasa sekitar Polewali sedemikian baiknya, sehingga salah seorang puteranya dinikahkannya pula dengan puteri I Coma’ Arung Batulappa sehingga melahirkan La Tenri Arung Batu Lappa. Maka beliau sesungguhnya adalah seorang Tokoh Pioneer yang bervisi futuristik sehingga sukses berkiprah pada suatu negeri yang jauh dari kampung halamannya.

Ishak Manggabarani KaraEng MangEppE’ mestilah seorang tokoh fenomenal yang berkepribadian kuat dan berkarakter khas. Keunikan cara pandangnya dapat dilihat ketika menamai putera puterinya dengan nama-nama hewan kesayangannya, antara lain : I Tedong, I Sapi, I Kiti’, I Bannya’, I Manila, I Burung, I Nuri, dll. Suatu hal yang tentu saja dimaksudkan bukan sebagai pelecehan terhadap darah dagingnya, melainkan sebagai “panggilan sayang” kepada turunannya tersebut. Beliau mestilah seorang yang memiliki kegemaran khusus dalam berternak dan berkebun. " 

Dari sumber tulisan ini dapat diketahui bahwa keturunan Manggabarani berasal dari suku Bugis yang berkiprah di wilayah Polewali. 

Sumber : tulisan Andi Oddang, Latar belakang Manggabarani Karaeng Mangeppe, Arung Matoa Wajo ke-43, 1900-1916

0 Komentar untuk "Saoraja Ujung Polewali, Tinggalan Rumah Adat di dalam Kota Polewali"

Selamat datang di website Tommuane Mandar.Com silahkan tambahkan komentar Anda

Back To Top